Akhirnya, pada 16 Juli 2008 kemaren, kami putuskan untuk berkonsultasi dengan dokter bedah anak di RSIA Hermina Depok. Berdasarkan observasi dokter, kondisi fimosis memang terjadi pada El Fatta. Solusinya adalah dikhitan. Ada cara lain selain dikhitan yaitu dilatasi (pelebaran), namun potensi fimosis bisa terjadi lagi. Jadi keluarga memutuskan untuk dikhitan aja sekalian. Selanjutnya kami membuat janji dengan dokter untuk pelaksanaan operasi sirkumsisi (khitan) pada tanggal 18 Juli 2008 jam 17.30. Selanjutnya kami memesan kamar dan pengambilan darah el untuk pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari prosedur pra operasi sirkumsisi.
Keesokan harinya (17/7) kami mengambil hasil laboratorium dan menyerahkannya ke dokter anestasi. Menurut dokter anestasi, hasil laboratorium El baik-baik saja untuk dilakukan bius total pada saat operasi sirkumsisi. Selanjutnya, dokter anestasi menjelaskan kelebihan, kekurangan, dan risiko dari bius total. Mama sempet menanyakan juga mengenai alergi obat bius yang pernah mama baca di internet yang menyebabkan seorang anak meninggal karena bius total pada saat operasi sirkumsisi. Kata dokter, kemungkinan tersebut sangat kecil. Selanjutnya, dokter mengharuskan El untuk puasa 4 jam sebelum operasi untuk menghindari terjadinya muntah yang masuk dapat masuk ke saluran pernafasan sehingga dapat menyebabkan gangguan respirasi pada saat pembiusan.
Akhirnya, hari yang mendebarkan tiba. Hari Jum’at tanggal 19 Juli kami bersiap-siap untuk mengantar El ke Hermina. Tambah siang mama tambah deg-degan aja. Dari jam setengah 12 siang El udah berhenti makan makanan padat, termasuk susu. Tapi masih boleh minum air putih sampai jam setengah 3. Jam 2 siang, kami sekeluarga (mama, papa, opa, akung, uti, leha) nganter El ke Hermina. Setelah lapor ke bagian pendaftaran, kami dianter ke bagian bedah untuk mengisi form persetujuan operasi selanjutnya ke bagian keperawatan ngambil kunci kamar. Sambil nunggu jam setengah 6 sore, kami istirahat dulu di kamar, santai-santai dulu untuk menghilangkan stress. Tapi Elnya ga mau diem, maunya jalan-jalan.
Pake Baju bedah
Sambil menunggu El dipanggil, kami bergantian membujuk El agar ga rewel karena dah kelaperan dan kehausan. Sampai akhirnya jam 17.50, El dipanggil untuk masuk kemar operasi. El ditemanin papa masuk ke mar operasi, kami sekeluarga menunggu di luar. Papa menemani El sampai tahap pembiusan saja. Pada saat pembedahan, keluarga tidak diijinkan masuk ke kamar operasi.
Sambil menunggu El operasi, kebetulan saat adzan maghrib, jadi sekalian sholat maghrib dan berdo’a untuk kelncaran proses operasi El. Setelah sekitar 20 menit-an berada di kamar operasi, akhirnya keluarga dipanggil untuk menemui El. Alhamdulillah pada saat kami menemui El, dia sudah sadar tapi belum sadar penuh. Dia sedang menagis kesakitan, tapi matanya masih merem. Mama sempet ciut juga pas ngeliat hasil operasinya, tititnya masih berdarah-darah, rasanya ngilu banget ngeliatnya. Berhubung sudah boleh diberi minum, mama langsung mwmbuatkan susu. Badannya masih berontak, jadi dia tiduran sambil dipegangin. Untuk menenangkan dia, mama gendong El, nangisnya berhenti sejenak. Ternyata setelah mama gendong dia langsung BAB dan kencing juga meluncur membasahi tembok ruang pemulihan,hehehe. Setelah BAB dan kencing, nangisnya masih meronta-ronta. Akhirnya mama bawa jalan ke depan ruang pemulihan , sambil dikipas-kipas “titit”nya sama Uti. Di situ dia mulai tenang, sepertinya dia trauma melihat suster dan ruang pemulihan. Setelah mengais selama +/- 30 menit, akhirnya dia kecapean dan ketiduran. Alhamdulillah, paling ga, dengan tidur dia tidak merasakan sakit. Setelah itu kami diijinkan untuk pindah ke kamar rawat inap.
Di kamar, mama gendong El terus. mama coba tidurin dia di bed tapi dia langsung berasa dan nangis. So, semaleman mama pangkuin El. Untungnya mama bisa sambil nonton Final Mamamia di Indosiar dan Indonesian Idol, jadi ga berasa menghabiskan waktu sambil memangku si El. Alhamdulillah semaleman El tidak terlalu rewel, sesekali terbangun dan menangis, tetapi setelah ditimang-timang dan dikipas-kipas lukanya dia tertidur lagi. Malam itu kami sekeluarga nginep di kamar RS nemenin El.
Keesekon harinya dia sudah bisa ketawa, seperti tidak sedang merasakan sakit. Paling kesakitan pas dibersiin lukanya sama suster.Setelah itu ketawa-ketawa lagi. Alhamdulillah pas disuapin udah mau makan, tapi agak repot tiap kali mau diminumin obat. Parahnya, dia udah ga betah digendong, maunya turun minta jalan, tapi dilarang sama suster darah di lukanya keluar lagi. So, musti rajin-rajin bujukin dia biar ga minta jalan.
Jam 5 sore, setelah membereskan semua urusan administrasi, kami pulang. Sampai di rumah, El kegirangan banget, kayaknya udah kangen berat sama rumah, dan yang pasti udah kangen sama aktivitas di rumah yaitu ‘jalan-jalan keliling kebon’. Badannya berontak tiap digendong, maunya turun minta jalan. Berhubung udah ga bisa dibujuk, terpaksa kami turunkan. Setelah kakinya nyentuh tanah langsung tuh anak tanpa ngerasain sakit. Karena takut lukanya kena debu, dan berhubung ga bis pakai celana dan kain sarung, so sementara El Fatta berubah kayak cewe coz pake roknya kak Bila, temen maen El. Gpp lah untuk sementara berubah kayak cewe, asal ga keterusan,hehehe.
Semua kekhawatiran Alhamdulillah sudah terlewati dengan selamat. Alhamdulillah semua ketakutan yang berlebihan ternyata tidak terjadi. Semuanya baik-baik saja, semuanya bisa dijalani dan duhadapi. Yang penting semua kita pasrahkan dan berdo’a yang terbaik memohon kepada Alloh SWT.
Apabila ada pembaca yang mengalami kasus yang sama dengan El Fatta, semoga pengalaman kami ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam mengambil keputusan. Pada prinsipnya kita ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Semoga mereka bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia.











