Rabu, 31 Desember 2008

Welcome to Tamansari Puri Bali


Alhamdulillah tanggal 25 Desember kemaren akhirnya kami pindahan juga ke rumah kami tercinta di Tamansari Puri Bali. Berangkat dari kukusan jam 12.30 siang, Alhamdulillah cuaca sangat mendukung, tidak panas dan tidak hujan. Mama tidak tahu persis proses kepindahannya coz sudah diungsikan terlebih dahulu bersama El ke rumah Oma. Pengennya sih ikut serta beres-beresnya, ternyata si El ngrecokin terus sehingga membuat kami yang udah stress menjadi tambah stress, so diputuskan El harus segera diungsikan, dan mama yang harus menemani, ada enaknya juga sih, mama jadi engga cape. So jadinya yang beres-beres papa dan kedua assistant kami, mbak Ani n mbak Ning. Prosesi pindahan cukup membuat kami stress karena ternyata banyak juga barang-barang yang harus kami bereskan. Mama sih tidak terlalu kaget dengan urusan pindah2an coz semasa masih gadis udah terbiasa dengan pindah2an kos. Justru papa yang lumayan stress dan terkaget-kaget. Tapi Alhamdulillah semuanya dapat berjalan dengan lancar.

Hari Jumatnya 26 Desember, setelah penataan barang2 di rumah baru sudah beres, mama dan el baru bergabung di Puri Bali. Masih lumayan berantakan, mama jadi gatel pengen ikutan beres2 juga, tapi bingung mau mulai dari mana, coz so many things to do, akhirnya mama fokuskan untuk membenahi pernak-pernik dapur. Alhamdulillah sore harinya rumah sudah lumayan rapi, so malem hari bisa santai2 sambil memandangi rumah,hehehehe. Serasa ada suasana baru dalam keluarga kami, mama jadi semangat lagi untuk memulai segala sesuatunya dari awal, dan melanjutkannya dengan hal-hal yang baik di rumah ini. Mama pengen selalu menjaga kerapihan dan kebersihan rumah, secara selama ini mama masih suka berantakan,hehhehehe, trus mama ingin bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kami coz selama ini kayaknya masih kurang baik, mama juga pengen rumah ini bisa menjadi penyejuk bagi keluarga kami, menjadi surga dunia kami.

Well. semoga moment “rumah baru” dan “tahun baru” yang sebentar lagi akan tiba dapat membawa perubahan yang lebih baik dalam segala hal untuk keluarga kami.Ya Alloh, semoga engkau jadikan rumah kami ini sumber kebahagiaan keluarga kami, tempat kami berkumpul, tempat kami berlindung, tempat kami mendidik anak-anak kami. Semoga engkau senantiasa memberikan keridhoan, keberkahan, dan bimbingan bagi keluarga kami, amien.


WELCOME TO TAMANSARI PURI BALI

AND

“TO ALL MY DEAREST FRIEND, HAPPY NEW YEAR, WISH YOU ALL THE BEST IN THE COMING YEAR”

Senin, 22 Desember 2008

My Beloved Rent House


Ini adalah rumah kontrakan kami di daerah Kukusan Beji Depok. Rumah ini adalah saksi dimulainya kehidupan rumah tangga kami. Kami menempatinya tepat seminggu setelah kami menikah. Rumah berukuran 6 x 6 m ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 dapur mini, dan 1 kamar mandi. Pada awal survey, yang terbersit dalam benak kami adalah “sempit banget ya, betah ga ya tinggal di sini” dan keraguan-keraguan lainnya, tapi kami sungkan untuk menolak tinggal di rumah ini karena opa udah capek-capek mencarikan rumah ini untuk kami.

Dan, hari demi hari kami lalui di rumah ini. Ternyata, rumah ini begitu nyaman dan damai. Rumah yang sempit ini terasa begitu lapang, rumah yang sederhana ini terasa begitu indah. Dan satu demi satu kenangan tercipta dalam kehangatan rumah mungil ini. 2,5 tahun sudah kami tinggal di rumah ini, rasanya masih enggan untuk berpisah, tapi tinggal hitungan hari akan kami lalui di rumah ini. Tanggal 25 Desember besok adalah hari terakhir kami tinggal di sini. Dengan berat hati, we have to say “Goodbye my sweet home, my beloved rent house, Thanks for having a nice day with you”. Semoga kebahagiaan dan kedamaian yang sama akan kami temukan di rumah baru kami di Puri Bali, Amien.

Selasa, 18 November 2008

Papa's Birthday and the story of him


Today is Papa Birthday. 30++ tahun yang lalu beliau dilahirkan di sebuah kelurahan di kecamatan Beji Depok, yang sekarang udah jadi kampus UI tercinta. Konon, Ray kecil tumbuh sebagai anak dan cucu kesayangan keluarga Kasawilaga (maklum, anak dan cucu pertama), sering jadi rebutan kakek dan neneknya,hehehehe. Look at the picture, lucu banget khan, rambut hitamnya khas banget dari kecil sampai sekarang. Konon kabarnya lagi, sampai TK ray kecil masih suka ngeces (duh, cakep2 suka ngeces ya mas,hehehehe).

Baby Ray, montok pisan euy

yang pake topi mirip El ya


Ray kecil lalu tumbuh menjadi ray anak-anak (anak SD, anak SMP, anak SMA,hehehe), menjadi sosok yang nice boy, tampang di fotonya kayaknya bukan type anak bandel neh.
Then, dia tumbuh lagi menjadi sosok pemuda tanggung, yang penampakannya kayak gini neh...

gaya coverboy tahun 80-an

Konon kabarnya lagi, pas jaman-jaman SMA dia termasuk pemuda yang suka tawuran, sukanya nongkrong, engga mau belajar (ih, padahal engga ada tampang tuh mas, kayaknya alim2 aja). Tapi seiring dengan bertambahnya umur, dia kemudian menjadi sosok pria dewasa yang bertanggung jawab, pekerja keras, penyabar, dan mengayomi adik-adiknya (terbukti kok sampai sekarang beliau adalah sosok yang super duper sabar, baik hati, dan penyayang).

Ray dewasa (masih kurus ya)

Di usianya yang sudah cukup umur, dia berusaha menjajaki beberapa wanita. Setelah gagal dengan beberapa wanita (yang menurutnya cantik-cantik) akhirnya ketemu dengan pacar terakhirnya, yang kini menjadi istri tercintanya (hehehehe)


Ray & Etty (sewaktu masih pacaran)


Hingga akhirnya dia melepas masa lajangnya pada tanggal 2 September 2006

Dan kini, dia telah menjadi Papa dari seorang anak yaitu El Fatta


Ga berasa ya pa, tahun demi tahun telah berlalu. Ray kecil kini telah menjadi sosok Suami dan Papa bagi keluarga kami. Papa yang baik hati, penyabar, penyayang, dan bertanggung jawab. Papa yang selalu tersenyum dengan ramah dan tidak pernah marah. Terimakasih papa atas semua pengorbanan yang engkau berikan untuk kami. "SELAMAT ULANG TAHUN PAPA", Semoga kebahagiaan, kesuksesan, dan limpahan rezeki selalu mengiringi perjalanan hidup papa bersama kami. Kami akan selalu berbakti Untukmu pa.

We love papa forever




Mama & El Fatta




Kamis, 23 Oktober 2008

Surat Untuk Leha



To : Siti Zulaikha (Leha)


Leha, ga berasa ya sudah 2 tahun kamu menemani keluarga kami di rumah yang sederhana ini. Susah senang kita rasakan bersama. Kamu adalah saksi dimulainya perjalanan rumah tangga kami.

2 tahun yang lalu kamu datang pada saat aku tengah mengandung El Fatta 1 bulan. Alhamdulillah sejak ada kamu, semua kerjaan rumah beres, pulang kantor aku bisa langsung tidur dengan tenang dan kamu sudah bisa leluasa bersantai santai nonton TV atau tidur-tiduran. Aku tahu di awal-awal kamu kerja di tempatku kamu merasa kesepian karena kamu belum kenal dengan tetangga sebelah, kalaupun diajak ngerumpi dengan tetangga (Bu Sarmili, Mbak Erni, Mama Aji, Mimi Sum) kamu masih enggan karena masih canggung dengan tetangga-tetangga baru kita itu, akupun juga merasakan hal yang sama, dan kita lebih memilih untuk berdiam diri di kamar masing-masing sambil nonton TV atau baca-baca buku. Rutinitas sehari-hari yang tidak bervariasi (nyuci, beres-beres rumah, masak, setrika, tidur, nonton TV) ternyata membuatmu bosan dan merasa kurang tantangan.

Dan ternyata situasi itu berubah sejak kehadiran seorang bocah mungil di tengah-tengah keluarga kami pada Juni 2007 yang lalu. Yah, sejak kehadiran El Fatta tentu saja ritme kerjamu berubah 180 derajad, dan kamupun sempat terkaget – kaget dengan load kerja yang bertambah, demikian juga aku. Masih teringat bagaimana stressnya kita dengan tambahan cucian popok dan bedong yang menggunung, dan tambah stress lagi pas cucian belum kering karena hujan, sementara stock popok dan bedong sudah menipis, padahal El terus menerus pipis. Apalagi setelah El ditinggal Utinya pulang ke Jawa, mau engga mau kita berdua harus belajar dan bekerjasama untuk mengurus el mulai dari memandikan, mengganti popok, menyediakan susu, dan menenangkannya pada saat dia terbangun dan menangis. Dan pengabdianmu yang sesungguhnya dimulai setelah aku kembali bekerja. Kami mempercayakanmu 100% untuk menjaga dan mengurus El Fatta selama kami bekerja, tapi tidak jarang malam-malam terpaksa kami membangunkanmu untuk menenangkan El fatta yang tidak berhenti menangis. Perjuangan paling berat adalah pada saat menghadapi El fatta sakit. Mau ga mau kita mengorbankan waktu tidur kita dan bergantian untuk menggendong El Fatta. Dan kelihaianmu sudah teruji dengan semua tindakan penyelamatan yang telah kamu lakukan pada saat-saat menghadapi El Fatta yang sedang kritis. Masih banyak pengorbanan yang tidak dapat aku deskripsikan dalam tulisan ini, karena begitu banyak hal telah terjadi dalam 2 tahun ini, dan kamu sebaga pemain utamanya.

2 tahun telah berlalu, dan kini El fatta sudah 16 bulan
Mungkin kamu sudah mempertimbangkan banyak hal, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk meninggalkan kami dan El Fatta. Mungkin kamu sudah jenuh ya dengan rutinitas kerja di tempat kami, atau kamu terlalu lelah dengan pekerjaan yang kami berikan apalagi setelah Mbak Nur tidak lagi menjadi partner kerjamu. Atau mungkin banyak kesalahan yang telah kami perbuat hingga kamu tidak tahan lagi tinggal bersama kami. Yang pasti kami telah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pemberi kerja yang baik. Kami berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk tidak memarahimu jika ada hal-hal yang tidak berkenan, kami cukup menegurmu dengan cara yang sopan. Kami juga berusaha memberikan kebebasan yang bertanggung jawab, dan juga kami berusaha untuk memberikan imbal jasa (gaji) diatas rata-rata walaupun menurut kami imbal jasa yang kami berikan masih kurang, semua semata-mata untuk menghargai semua pengabdian dan pengorbananmu. Atau mungkin kamu ingin mendapatkan kesempatan yang lebih baik di luar sana. Apapun alasannya, itu semua adalah hak kamu dan tidak seorangpun berhak untuk menahan hak seseorang.

Rasanya keputusan ini begitu cepat..
Masih banyak hal yang belum kami berikan untuk membalas jasa-jasa kamu. Maafkan kami belum dapat memenuhi janji – janji yang pernah kami sampaikan untuk dapat membantumu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau sekedar mengikuti kursus menjahit seperti yang kamu inginkan. Kami juga belum sempat mengajakmu jalan-jalan ke Bali atau ke Bandung seperti yang aku angankan, karena El Fatta masih terlalu kecil untuk diajak bepergian jauh. Demikian juga dengan angan-angan untuk membuat usaha bersama dan juga membiayaimu jika kamu menikah kelak. Mungkin waktu memang belum mengizinkan untuk dapat merealisasikan itu semua.

2 tahun telah berlalu..., dan banyak kesalahan yang telah kami perbuat.
Maafkan kami atas semua kata-kata dan perbuatan yang tidak berkenan. Mungkin kami belum berhasil menjadi panutan yang baik.


2 tahun telah berlalu....., dan banyak manfaat yang telah kamu berikan.
Terima kasih atas semua pengabdian dan pengorbananmu, ketulusan dan keikhlasanmu. Tidak cukup kami membalasnya dengan lembaran uang. Semoga Alloh membalasmu dengan lebih banyak kebaikan.

Masa depanmu masih panjang
Semoga dapat kamu manfaatkan dengan hal-hal yang berguna
Selamat menjalani kehidupan baru di tempat yang baru.....
Semoga persaudaraan tetap terjaga selamanya.
Dan kami akan selalu mengenangmu

Berikut kata-kata terakhir yang biasa aku sampaikan ke temen-temenku yang keluar dari kantor

Friend, days go on like a flow…
It’s time for another flow,
Maybe I can’t see you when I want to

God has determined our own destiny
It’s time for you to meet yours
Wish you luck in your new career and society
May our friendship will flow forever…

Thanks for your kindness……and sorry for my mistake.


Salam dari kami sekeluarga,



Ray, Etty, El Fatta & Dodo
This letter was sent in her last working day

Kamis, 16 Oktober 2008

Ayo....Semangat Lagi!!!


Berada di area “comfort zone” memang berbahaya. Dalam 2 tahun terakhir ini sepertinya aku terjebak di area tersebut. Area comfort zone yang aku maksud adalah rutinitas pekerjaan sehari-hari di kantor. Kenapa Comfort Zone? Karena saat ini aku merasa nyaman untuk terus melakukan rutinitas ini sepanjang waktu, day by day, dan enggan untuk move ke rutinitas lainnya. Kenapa merasa nyaman? Karena menurutku kerjaanku sekarang ga ngoyo2 amat. Masih bisa pulang tenggo, ga sampai bawa kerjaan ke rumah and ga juga kepikiran tentang pekerjan kantor sewaktu di rumah. Pokoknya ideal deh untuk seorang ibu bersuami dan beranak satu seperti diriku.

Trus, kenapa berbahaya?
Off course, karena dengan kondisi tersebut aku ngerasa pengen begini-begini aja terus, Aku malas berubah!!!!. Thats the critical problem. Impactnya adalah tidak adanya keinginan untuk berubah dan tidak ada keinginan untuk maju. So, impactnya lagi, aku jadi males ikutan training, males update my knowledge and males improve my skill.Pokoknya effect berantai judulnya.

Kenapa bisa begini?
Setelah melakukan evaluasi diri, ternyata problemnya adalah karena tidak adanya tujuan yang jelas ke mana aku ingin membawa arah hidupku. Ternyata hidup tanpa tujuan membuat kita terombang ambing. Klo jaman SD dulu aku semangat belajar karena aku ingin masuk ke SMP favorit, so NEM ku harus tinggi, demikian juga pas SMP, SMA dan kuliah, jadi mapping arahnya udah jelas. Dan kesimpulannya, dengan tujuan yang jelas, Alhamdulillah aku bisa mencapai tujuan-tujuan tersebut, aku bisa sekolah di SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi favorit. Mengapa? Karena setiap kita memiliki suatu tujuan pasti akan diikuti oleh serangkain usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Peribahasa “Siapa yang Menanam pasti Akan Menuai” memang benar adanya. Apa yang sudah aku dapatkan saat ini adalah hasil serentetan kerja kerasku dari kecil dulu. Demikian juga dengan apa yang aku kerjakan saat ini, baik buruknya pasti ada hasil maupun impactnya di masa yang akan datang.

Kenapa sekarang tidak punya tujuan?
Tujuan pasti ada, cuma arahnya yang masih belum jelas. Saat ini posisinya sedang berada di persimpangan. Mungkin perubahan status dari “yang hanya memikirkan diri sendiri” menjadi “harus memikirkan suami dan anak juga” menjadi pertimbangan yang mempengaruhi kebimbangan dalam menentukan arah hidup.

What’s Next?
Semangat......Semangat....Semangat!!!!
Gw harus setting target lagi. Klo sekarang sudah terlanjur “basah” di Industri Perbankan, So gw harus fokus dengan bidang tersebut, tidak sekedar mengetahui kulit-kulitnya saja tapi harus menguasai semua hal tentang Banking. Kepikiran pengen bikin blog tersendiri tentang Banking Tutorial biar ada tuntutan untuk refresh my knowledge about banking dengan nulis everything tentang ilmunya perbankan. Trus, gw harus memfokuskan spesialisasi gw ke mana. Honestly udah rada-rada boring neh di audit. Maybe ke depan pengen nyebrang ke compliance or risk management. So gw harus memperdalam rencana spesialisasi gw itu. Klo mau ke compliance ya harus menguasai abis PBI and SE BI. Klo mau ke Risk Management siap-siap aja memperdalam Basel II. Besides perbankan, sebenarnya masih belum rela meninggalkan debet creditnya accounting. Trus gimana ya menyalurkannya secara sehari-hari gw di audit sama sekali tidak berhubungan dengan jurnal-jurnal accounting. Kepikiran sih jadi volunteer or side job kecil-kecilan, bantuin usaha kecil (SME) yang belum memiliki sistem pembukuan. Semoga ada yang mau daftar jadi klien gw, hehehehe. So, sekarang sedang penasaran mempelajari software akuntansi untuk SME. Trus? sepertinya harus sekolah lagi, but the constraint is time, and of course the money,hehehehe. So, untuk yang satu ini harus tetep jadi nominasi, tapi prioritas berikutnya, menunggu segala sesuatunya sudah longgar.

So.....?
Masih banyak hal yang bisa dilakukan selagi relatif masih muda J
Dunia kerja adalah awal dari sebuah proses belajar yang sesungguhnya
Perbedaannya, proses belajar ini tidak terlembagakan secara formal
Jadi butuh kesadaran pribadi untuk terus melakukan proses pembelajaran secara kontinyu
Masih banyak hal yang harus digali dan dipelajari dalam realitas kehidupan ini

So, i want to remind myself....
Jangan pernah berhenti belajar dan berusaha
Walau hanya sedetikpun
Karena “apa yang kita lakukan saat ini akan menentukan kualitas hidup kita di masa yang akan datang”

Ayo.......Semangat Lagi!!!

Minggu, 14 September 2008

Almost Finished

Update perkembangan pembangunan rumah di Puri Bali, Alhamdulillah sudah hampir jadi. Rencananya tanggal 13 September kemaren akan dilakukan serah terima kunci, tapi ternyata masih ada beberapa yang belum rapi, jadi serah terima kunci ditunda dulu sampai mungkin habis lebaran.

Overall rumah sudah jadi 100%. Visit terakhir tanggal 13 kemaren kondisinya tinggal membenahi hal-hal yang menurut Quality Controlnya belum Ok. Jadi sebenarnya sudah layak huni, tapi rumah masih berantakan coz masih ada tukang yang sedang merapikan.



Masih berantakan

Kondisi Jalan udah Ok


Tetangga kiri kanan rumah malah sudah serah terima kunci duluan. Yang satu sudah dihuni, satunya sedang renovasi untuk penambahan lantai 2.

Rumah tetangga sebelah yang sudah dihuni


Taman di Banjar tabanan juga sudah sangat rapi. Suara kicauan burung menambah suasana menjadi damai. El seneng banget maen di Bale-balenya. Sepertinya anakku ini bakalan betah maen di rumah barunya.


Taman di Banjar Tabanan


Leyeh-leyeh di Bale-Bale


Gapura Banjar Tabanan

Kondisi keseluruhan di Banjar Tabanan sudah mulai ramai. Tampak beberapa keluarga yang sudah menghuni, kemungkinan habis lebaran bakalan banyak yang pindahan. Kami sekeluarga rencana mau pindahan Januari Tahun depan. Sudah tidak sabar rasanya pengen segera menikmati keindahan suasana di Puri Bali.

Jalan - Jalan ke Bogor


Hari Kamis, tanggal 28 Agustus kemaren, sekeluarga menyempatkan jalan-jalan ke Bogor sebelum masuk bulan Ramadhan. Sebenere acara jalan-jalan ini dilatarbelakangi oleh “janji” Oma untuk ngajak El naik kereta klo El udah bisa jalan. So, untuk memenuhi keinginan Oma tersebut, akhirnya diputuskan untuk ngajak El jalan ke Bogor naik kereta. Sengaja ngambil hari kerja supaya tidak terlalu ramai di kereta dan di tempat wisatanya. Rombongan yang ikut adalah Mama, Papa, El, Leha, Oma, Opa, Tante Achie, Sakti, trus mau janji ketemuan sama Tante Bumi sekeluarga di Bogor.

Berangkat dari Depok naik kereta jam 08.35. Selama nunggu kereta datang, El Fatta kegirangan ngeliat kereta yang lalu lalang. Apalagi setelah naik keretanya, tampangnya terbengong-bengong, kayak orang baru naik kereta aja, hehehehe emang baru naik kereta mam. Sebenere di kereta tuh bocah udah ngantuk berat, tapi dia ga rela melewatkan perjalanan di kereta, jadinya bimbang antara pengen bobo sama pengen ngerasain naik kereta.





Sampai di bogor, langsung menuju ke Taman Topi, sengaja nyari tempat terdekat dari Stasiun biar ga ribet mobilitasnya. Sampai di Taman Topi masih sepi, secara hari kerja dan masih pagi, tapi memang itu suasana yang kami cari.



El Fatta seneng banget ngeliat banyak permainan di situ. Mama umbar aja dia, trus dia langsung ngacir nyamperin permainan-permainan yang ada. Paling seneng naik kereta Thomas, sampai ga mau turun, mama juga betah bolak-balik naik kereta Thomas. So, papa jadi bolak-balik ke loket buat nambah tiketnya. Semua permainan kita cobain, dan baru kelar jam 12 siang. Udah sempet makan siang juga, oma siapin bekel dari rumah demi cucu tercinta, berasa tamasya keluarga banget ya,hehehehe.







Then, dari Taman Topi nyari oleh-oleh dulu yang khas Bogor such as asinan, talas, buat dibagiin ke tetangga. Trus kita ke stasiun nyari kereta ke Depok, Alhamdulillah langsung ada. So kita bisa pulang on time, sesuai rencana. Di kereta udah kecapean, dan semua ketiduran, Alhamdulillah ga kelewat pas turun. Sampai di rumah jam 1an siang.

Jalan-jalan kali ini walaupun simple, tapi sangat menyenangkan. Sepertinya El harus sering-sering diajak jalan biar dia tidak asing dengan dunia luar.